Banner 468 x 60px

 

Jumat, 24 Juli 2020

Beda Khutbah Jumat dengan Khutbah Ied

0 komentar
Sekilas, persiapan Salat Jumat ini mirip dengan kebiasaan Salat Ied yang biasa kita lakukan. Ya, dalam banyak hal, keduanya memang memiliki kesamaan, diantaranya sama-sama dilaksanakan dalam dua rakaat. Kemudian, juga memakai khutbah.
Namun demikian, khutbah keduanya tetaplah memiliki perbedaan. Dinukil dari buku karangan Gus Arifin berjudul “Fiqih Puasa: Memahami Puasa, Ramadhan, Zakat Fitrah, Hari Raya, dan Halal bi Halal” yang dilansir dari Brilio.id, Rabu (15/7), perbedaan khutbah keduanya antara lain:
  1. Waktu
Khutbah Jumat disampaikan sebelum salat dua rakaat, sedangkan khutbah salat Ied disampaikan setelah salat. Menurut madzhab Hanafi, khutbah Ied tidak sah bila didahulukan, bahkan harus diulangi lagi.
  1. Awalan
Khutbah Jumat dimulai dengan pujian kepada Allah (hamdalah). Hal ini termasuk syarat atau rukun menurut madzhab Syafi'i dan Hambali, sunah menurut madzhab Hanafi, dan sunah yang dianjurkan menurut madzhab Maliki.
Adapun khutbah Idul Fitri dan Idul Adha sunah dimulai dengan bacaan takbir.
  1. Berbicara (Berdzikir)
Menurut madzhab Hanafi, Hambali, Maliki, yang mendengarkan khutbah Ied sunah mengucapkan takbir secara pelan-pelan ketika khatib bertakbir. Sementara menurut jumhur ulama, dalam khutbah Jumat haram berbicara, termasuk berzikir.
Namun menurut pendapat yang sahih dari madzhab Hanafi, tidak makhruh berzikir ketika khutbah Jumat dan Ied. Sedangkan menurut madzhab Hambali, haram berbicara selain takbir dalam khutbah Jumat dan Id.
  1. Khatib
Menurut madzhab Hanafi, khatib salat Ied jangan duduk di mimbar, kecuali pada khutbah Jumat.
  1. Berhadas
Menurut madzhab Maliki, apabila khatib Ied berhadas di tengah-tengah khutbahnya, ia boleh melangsungkan khutbahnya dan tidak perlu mencari pengganti. Hal yang sebaliknya terjadi pada khutbah Jumat.
  1. Sunah
Menurut madzhab Syafi'i, hal-hal yang sunah pada khutbah Jumat juga berlaku dalam khutbah Ied seperti harus berdiri, suci, menutup aurat, dan duduk di antara kedua khutbah


Contoh Khutbah Idul Adha dan Khutbah Jumat
Haji,Qurban dan Pandemi Covid-19
Nilai-nilai pendidikan dalam peristiwa Qurban
Khutbah Jumat : Bersyukur dengan berqurban
Khutbah Jumat : Adab adab terhadap Masjid
Khutbah Jumat : Menjadi juara di sisi Allah  
Read more...

Sholat Idul Adha Jatuh pada Tanggal 31 Juli 2020

0 komentar
Kementerian Agama ( Kemenag) telah menyelenggarakan sidang isbat untuk menetapkan awal Zulhijah 1441 H, Selasa (21/7/2020) sore. Dari hasil pengamatan hilal yang dilakukan di 87 titik di seluruh Indonesia, tanggal 1 Zulhijah 1441 H ditetapkan jatuh pada hari ini, Rabu (22/7/2020).

Dengan begitu, hari raya Idul Adha atau kurban yang jatuh pada 10 Zulhijah 1441 H bertepatan dengan 31 Juli 2020. Terkait pelaksanaan shalat Idul Adha, Kemenag menyatakan, masyarakat dapat melaksanakannya dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus corona.

 "Menurut Menag, shalat Idul Adha maupun penyembelihan hewan kurban dapat dilaksanakan di semua daerah kecuali pada tempat-tempat yang dianggap masih belum aman Covid-19 oleh pemerintah daerah atau gugus tugas daerah," kata Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi melalui keterangan resmi kepada Kompas.com, Rabu (22/7/2020).

Surat edaran Menteri Agama Pernyataan ini didasarkan pada Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2020. Dalam SE tersebut, Menteri Agama RI Fachrul Razi memberlakukan sejumlah protokol atau aturan yang harus dilakukan dalam pelaksanaan ibadah shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban serta distribusinya pada masa pandemi ini.
"Pelaksanaan shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban juga harus memperhatikan protokol kesehatan dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat," lanjut Zainut.



Read more...

Selasa, 19 Mei 2020

Tata Cara Sholat Idul Fitri

0 komentar

Read more...

Rabu, 25 Maret 2020

IKADI KAB. NGUTER SUKOHARJO GELAR PELATIHAN / PEMBEKALAN DA'I RAMADHAN

0 komentar

Bertempat di rumah makan Soto Pak Harto Selatan Terminal Sukoharjo, pada hari Sabtu, 3 April 2021, jam 10.00-11.30 ketua PD IKADI Karanganyar, Ust Joko Pramono menjadi salah satu narasumber Pelatihan Dai Ramadan yang diselenggarakan oleh PC IKADI Nguter Sukoharjo. DIhadapan kurang lebih 50 peserta, Ust Joko Pramono, memaparkan tentang sertifikasi dai IKADI, penguasan forum, publick speaking, dan strategi menyajikan materi ceramah ramadan. 
Dalam paparannya Ust Joko menjelaskan pentingnya memahami karakteristik jamaah agar dapat menentukan metode ceramah dan materinya. Beliau memaparkan kategori masyarakat yang terdiri atas Watching Society (Masyarakat penonton), Reading Society (Masyarakat pembaca), Writing Society (Masyarakat Penulis) dan Learning Society (Masyarakat Pembelajar). Para dai diharapkan mampu membawa masyarakat melalui ceramahnya dari masyarakat penonton menuju masyarakat pembelajar.
 
Pada masyarakat tipe penonton, ceramah dengan metode kisah atau bertanya sangat bagus karena dapat membawa emosi dan psikologi jamaah mengikuti ceramah dengan baik dan tuntas. Pada masyarakat pembaca, penceramah harus menyajikan ceramah dengan analisis yang kuat. Pada masyarakat penulis, penceramah harus menyajikan ceramah yang analistis, evaluatif, informatif dan ilmiah. Pada masyarakat pembelajar dimana masyarakat sudah terdidik dan produktif beramal, materi ceramah harus lebih tajam analisis kualitatif maupun data kuantitatifnya, serta memiliki daya dorong untuk beramal jamai yang lebih produktif. 

(Sumber : https://www.ikadikaranganyar.or.id/pelatihan-dai-ramadan-ikadi-kec-nguter-sukoharjo)

Read more...

Selasa, 18 Februari 2020

IKADI Kec. Baki Gelar Seminar Ustadz Ustadzah TPQ tahun 2020

2 komentar
 DAFTAR NAMA PESERTA SEMINAR USTADZ-USTADZAH TPQ
IKADI KEC. BAKI TAHUN 2020

Materi
1. Manajemen TPQ
    Download
2. Metode mengajar Alqur'an secara Teori dan Praktek
    Download
3. TPQ Jadi lebih menyenangkan
    Download

 

Baca Artikel terkait TPQ

Alasan Kenapa Kamu Harus Belajar Tahsin

Apa itu Ngaji metal 

Read more...

Kamis, 06 Februari 2020

Rakornas dan Grand Ikadi Award 2020

0 komentar
Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Ikatan Dai Indonesia (IKADI) pada 7-9 Maret 2020 di Jakarta menghasilkan rekomendasi Risalah Jakarta.

Rekomendasi yang disampaikan Ketua Umum Ikadi, KH Achmad Satori Ismail saat penutupan itu sebagai berikut:

Pertama, memperkokoh Ikadi sebagai penebar Islam rahmatan lil ‘alamin dengan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh sarana, media dan data, serta meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam berdakwah.

Kedua, memperkuat solidaritas dan loyalitas organisasi melalui peningkatan hubungan koordinatif yang berkelanjutan, demikian keterangan pers diterima MINA, Senin (9/3).

Ketiga, memberikan perhatian secara khusus terhadap dakwah generasi milenial.
Keempat, menyerukan kepada para dai agar memanfaatkan jaringan keummatan untuk kemandirian ekonomi.

Kelima, memperkokoh relasi dan komunikasi serta kerja sama dengan berbagai elemen umat, baik lokal, nasional maupun internasional.

Keenam, mengajak segenap elemen bangsa untuk mengokohkan Al Mitsaq Al Wathani (Kesepakatan Berbangsa dan Bernegara) dan tidak membenturkan Islam dengan Pancasila.

Ketujuh, menghimbau umat Islam untuk menjalankan pola hidup sehat dan Islami, serta membentengi diri dengan banyak ibadah, dzikir, doa dan tawakkal sebagai langkah preventif terhadap virus corona dan penyakit berbahaya lainnya.

Kedelapan, mengecam segala bentuk tindak kekerasan yang melanggar HAM terhadap umat Islam di India, Palestina dan negara lain, dan mendorong pemerintah Indonesia untuk mengambil peran aktif sesuai dengan amanat konstitusi.

Kesembilan, menghimbau para Dai Ikadi agar bersama kaum muslimin untuk muhasabah, dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan memperbanyak amal shalih, ibadah dan do’a demi terwujudnya Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

sementara itu Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) juga menyelenggarakan Grand Ikadi Award 2020 di Grand Cempaka Hotel, Cempaka Putih, Jakarta, Sabtu (7/3) malam. Penganugerahan ini menjadi rangkaian agenda dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Ikadi 2020.

Sejumlah nama dan lembaga menjadi penerima penghargaan dalam Grand Ikadi Award 2020 karena jasanya dalam dunia dakwah di berbagai sektor. Misalnya Mamah Dedeh, Aa Gym, Alamrhum Ustaz Arifin Ilham, Ustaz Salim A. Fillah, hingga Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Untuk Lembaganya antara lain yaitu Dompet Dhuafa, Aksi Cepat Tanggap, Sekolah Islam Buah Hati, Bank Mega Syariah, dan PT HPAI (Herbal Penawar Al-Wahida Indonesia).

"Saya sudah renta, saya berdakwah selama ini tidak ingin mendapatkan penghargaan, saya berdakwah mengalir saja, karena ayah saya pendakwah, otomatis saya sebagai pendakwah, saya bersyukur kepada Allah, tapi apakah Ikadi tidak salah pilih, saya tidak bisa apa-apa, saya bukan siapa-siapa. Selama ini saya ngomong kampungan karena saya orang kampung," kata Mamah Dedeh usai menerima penghargaan.

Ketua Dewan Syuro Ikadi Dr. Ahzami Sami'un Jazuli, Ketua Umum Ikadi Prof Dr Ahmad Satori Ismail, hingga Sekjen Ikadi Dr. Ahmad Qusyairi Suhail turut memberikan penghargaan kepada banyak nama dan lembaga yang dinilai juri layak mendapatkannya.

Lembaga pendukung dakwah.
1. The Most Favorite Dakwah Caring Islamic School: Buah Hati Islamic School.
2. The Most Favorite Da'wah Caring International Islamic School: Jakarta Islamic School.
3. The Most Favorite Da'wah Caring Syariah Securities: Trihamas Securities Syariah.
4. The Most Favorite Da'wah Caring Syariah Bank: Bank Mega Syariah.
5. The Most Favorite Da'wah Caring Syariah non-Bank Financial Institution: Pegadaian Syariah.
6. The Most Favorite Da'wah Caring Civil Contractor: PT Sarana Utama Adi Mandiri.
7. The Most Favorite Da'wah Caring Corporation: Pilar Property.
8. The Most Favorite Hajj and Umra Travel Agent: Hasanah Tour and Travel.
9. The Most Favorite Da'wah Caring Halal Consumer Goods Corporate: PT HPAI.
10. The Most Favorite National Islamic NGO: Dompet Dhuafa.
11. The Most Favorite Da'wah Caring Muslim Housing Developer: Riscon Group.
12. The Most Favorite Global Islamic NGO: Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Kategori Tokoh Pendukung Dakwah:
1. The Most Favorite City Government Figure Caring for Da'wah (Tokoh Pemerintahan Peduli Dakwah Tingkat Kabupaten/Kota Terfavorit): Bupati Sambas, H. Atbah Romin Suhaili, Lc.
2. The most favorite City Government Figure Caring for da'wah (Tokoh Pemerintahan Peduli Dakwah Tingkat Kabupaten/Kota Terfavorit): Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah.
3. The Most Favorite and Innovative Millenial Generation Dai (Dai Milenial dan Inovatif Terfavorit): Ustaz Salim A. Fillah.
4. The Most Favorite "Daiyah Sejuta Umat": Mamah Dedeh.
5. The Most Favorite "Dai Sejuta Umat": KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym).
6. The Most Favorite Pioneer Dai in Tahfidzul Quran Boarding School: Dr KH Muslih Abdul Karim, MA.
7. The Most Favorite Provincial Government Figure Caring for Da'wah (Tokoh Pemerintahan Peduli Dakwah Tingkat Daerah Terfavorit): Gubernur NTB Dr. H Zulkieflimansyah, S.E, M.Sc.
8. The Most Popular Government Figure Caring for Da'wah (Tokoh Pemerintahan Peduli Dakwah Nasional Terpopuler): Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Kategori Penganugerahan Ikadi
1. Special Award For Remote Area Da'i (Dai Pedalaman Teladan Terfavorit): Teguh Priyantoro.
2. Special Award for The Best Pioneer Da'i in Outreach Area Ustaz Fadlan Garamatan (Ustaz Madu Malu)
3. National Figure Cares for Da'wah and Democracy (Tokoh Nasional Peduli Dakwah dan Demokrasi): Dr. Hidayat Nur Wahid
4. Special Award for Pioneer and Legend Da'i: Alm. KH Muhammad Arifin Ilham.


Read more...
 
IKADI BAKI © 2022